Rabu, 26 Desember 2012


A.      BUSANA PESTA MALAM
                 Busana pesta malam adalah busana yang dikenakan pada kesempatan pesta malam hari dari waktu mulai matahari terbenam sampai waktu berangkat tidur baik bersifat resmi atau tidak resmi (Enny Zuhni Khayati, 1998 : 3).  Busana pesta malam dikelompokan menjadi lima (Enny Zuhni Khayati, 1998 : 3),yaitu:
a.    Busana pesta malam gala
Busana pesta malam gala adalah busana pesta yang dipakai pada malam hari untuk kesempatan pesta, dengan cirri-ciri model terbuka, glamour. Misalnya backlees (punggung terbuka), bustylook (dada terbuka), decolettelook (leher terbuka), dan lain-lain.
b. Busana pesta malam resmi
Busana pesta malam resmi adalah busana yang dikenakan pada saat resmi,model lebih sederhana, biasanya berlengan tertutup sehingga kelihatan rapi dan sopan tetapi tetap terlihat mewah.

b.   Busana pesta pagi
Busana pesta pagi atau siang adalah busana yang dikenakan pada kesempatan pesta antara pukul 09.00–15.00. Busana pesta ini terbuat dari bahan yang bersifat halus, lembut, menyerap keringat, dan tidak berkilau, sedangkan pemilihan warna sebaiknya dipilih warna yang lembut tidak terlalu gelap. Model busana cenderung lebih sederhana dibandingkan busana pesta malam. Pelengkap busana yang digunakan biasanya berupa sepatu hak tinggi, tas tidak berkilau, dan perhiasan yang digunakan tidak berlebihan.
c.    Busana pesta sore
Busana pesta sore adalah busana yang dikenakan pada kesempatan sore menjelang malam. Pemilihan bahan sebaiknya bertekstur agak lembut dengan warna bahan yang cerah atau warna yang agak gelap dan tidak mencolok.
e   Busana pesta malam
Busana pesta malam adalah busana yang dikenakan pada kesempatan pesta malam hari. Pemilihan bahan yaitu yang bertekstur lebih halus dan lembut. Model busana kelihatan mewah atau berkesan glamour. Warna yang digunakan lebih mencolok, baik model ataupun hiasannya lebih mewah.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa busana pesta malam adalah busana yang digunakan pada kesempatan malam hari dengan menggunakan bahan yang berkualitas dan hiasan pelengkap yang bagus. 
B.       KARAKTERISTIK REMAJA
           Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa. Remaja adalah seorang idealis, memandang dunianya seperti apa yang ia inginkan, bukan sebagaimana adanya dan suka mimpi-mimpi yang sering membuatnya marah, cepat tersinggung atau frustasi. Selain itu, oleh keluarga dan masyarakat sudah dianggap menginjak dewasa, sehingga diberi tanggung jawab layaknya seorang yang sudah dewasa. Remaja mulai memperhatikan prestasi dalam segala hal, karena ini memberinya nilai tambah untuk kedudukan sosialnya di antara teman sebaya maupun orang-orang dewasa.
         Menurut Hurlock (1990:184) menjelaskan bahwa puber (remaja) adalah periode tumpang tindih, karena mencakup tahun-tahun akhir masa kanak-kanak dan tahun-tahun awal masa remaja. Pembagiannya sebagai berikut :
1.   Tahap prapuber           : wanita 11-13 tahun, pria 14-16 tahun
2.   Tahap puber                : wanita 13-17 tahun, pria 14-17 tahun 6 bulan
3.   Tahap pasca puber       : wanita 17-21 tahun, pria 17 tahun 6 bulan-21 tahun
           Sedangkan menurut Gilmer menyebut masa remaja dengan istilah adolescence yang kurun waktunya terdiri atas tiga bagia yaitu :
1.   Preadolesensen dalam kurun waktu 10-13 tahun
2.   Adolesensen awal dalam kurun waktu 13-17 tahun
3.   Adolesensen akhir dalam kurun waktu 18-21 tahun
             Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa masa remaja adalah masa terjadinya perubahan tertentu pada individu dari masa anak-anak ke masa dewasa yang kurun waktu pertumbuhan dan perkembangan antara individu satu dan yang lain tidak sama persis.
C.      BUSANA PESTA REMAJA
Busana pesta adalah busana yang dikenakan pada kesempatan pesta, dimana pesta tersebut dibagi menurut waktunya yakni pesta pagi, pesta siang dan pesta malam (Prapti Karomah dan Sicilia Sawitri, 1998:10). Menurut menurut Enny Zuhni Khayati (1998:3) busana pesta adalah busana yang dikenakan pada kesempatan pesta baik pagi hari, siang hari dan malam hari. Sedangkan menurut Chodiyah dan Wisri A. Mamdy (1982:166) busana pesta adalah busana yang dikenakan pada kesempatan pesta, biasanya menggunakan bahan yang berkualitas tinggi dengan hiasan dan perlengkapan yang bagus dan lengkap sehingga kelihatan istimewa.
  Remaja merupakan suatu masa pertumbuhan seseorang yang mana seseorang tersebut mengalami masa pergantian dari anak – anak menuju ke masa dewasa, yang meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa remaja. Remaja di mulai pada usia 13 – 21 tahun.
Berkaitan dengan pendapat di atas bisa di jelaskan bahwa busana pesta remaja adalah busana pesta yang dikenakan oleh seseorang yang mengalami masa pergantian dari anak-anak menuju masa dewasa pada kesempatan pesta baik pesta pagi, pesta siang, pesta sore maupun pesta malam hari, dimana busana yang dikenakan lebih istimewa dibandingkan dengan busana sehari-hari, baik dari segi bahan, teknik jahit, desain maupun hiasannya.
D.      SUMBER IDE
1.     Pengertian Sumber Ide
           “Sumber ide adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan ide seseorang untuk menciptakan ide desain busana baru yang dapat diambil dari berbagai objek dan hal apa saja” (Sri Widarwati, 2000 : 58). Menurut Widjiningsih (1990 : 70), “sumber ide adalah sesuatu yang dapat merangsang lahirnya suatu kreasi”.
Sumber ide dapat dikelompokkan menjadi tiga (Sri Chodiyah dan Mamd, 1982 : 172), yaitu :
a)   Sumber ide dari pakaian penduduk dunia, pakaian daerah di Indonesia.
b)       Sumber ide dari benda-benda alam, seperti bentuk dan warna dari tumbuh-tumbuhan, binatang, gelombang laut, bentuk awan, dan bentuk-bentuk geometris.
c) Sumber ide dari berbagai peristiwa-peristiwa nasional, maupun  internasional, misalnya pakaian olahraga dari peristiwa PON, SEA game, Asian Games, Olimpic Games, dari pakaian upacara 17 Agustus.
 Dari ketiga sumber ide tersebut tidak perlu diambil secara keseluruhan tetapi dapat diambil bagian-bagian tertentu yang menjadi cirri khas atau keistimewaan dari sumber ide tersebut.
          Menurut Sri Widarwati (2000 : 59), hal-hal yang dapat dijadikan sumber ide antara lain :
a) Ciri khusus
     Bentuk yang menggambarkan pakaian itu mudah dikenali orang, misalnya Kimono Jepang dimana ciri khususnya terletak pada lengan dan leher.
b) Warna
 Warna-warna yang bisa menunjukkan warna khusus dari benda itu sendiri, Misalnya bunga  matahari yang berwarna kuning.
c) Bentuk / siluet
 Suatu desain yang mengambil garis luar baju (siluet) yang merupakan siluet yang khas dari suatu ide, misalnya sayap burung merak.
d) Tekstur
 Suatu bahan yang menujukkan adat tempat tertentu, misalnya tenunan, lurik, pakaian Wanita Bangkok yang bahannya terbuat dari sutera.
      Menurut Enny Zuhny Khayati (1998),
 (http=//www.geogle.com/search?q=pengembangan+sumber+ide), pengembangan sumber ide dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu :
a.       Transformasi
           Merupakan suatu proses yang panjang yang didahului oleh terjadinya inkulturasi dan akulturasi, proses dialog, sintesis budaya, serta diikuti oleh berbagai pergeseran nilai-nilai yang memunculkan kebudayaan baru tanpa menghilangkan ciri khas dari kebudayaan yang lama.
b.      Stilasi
   Merupakan cara membuat desain yang menata ulang atau mengembangkan bentuk dasar di suatu benda sehingga memunculkan bentuk baru tanpa harus menghilangkan ciri khas dari benda tersebut.
c.       Deformasi
Merupakan cara membuat desain dengan cara mengurangi bentuk dasar suatu benda sehingga memunculkan bentuk baru tanpa harus menghilangkan ciri khas suatu benda tersebut.
Dalam pengambilan sumber ide hendaknya tidak ditampilkan atau diaplikasikan pada keseluruhan busana tetapi hanya di bagian-bagian tertentu saja tentunya yang akan dijadikan pusat perhatian dari busana tersebut. Pendapat lain menyebutkan pengembangan sumber ide dilakukan dengan empat cara yaitu :
1.      Stilasi
Merupakan cara untuk mencapai bentuk keindahan dengan cara menggayakan objek atau benda tersebut.
2.      Distorsi
Merupakan menggambaran bentuk yang menekankan pada pencapaian karakter dengan cara menambahkan wujud-wujud tertentu pada benda.
3.      Trasformasi
Merupakan penggambaran bentuk yang menekankan pada pencapaian karakter dengan cara memindahkan wujud atau figur dari objek satu ke objek yang lain.
4.      Deformasi
Merupakan penggambaran bentuk yang menekan pada interpretasi karakter dengan cara menyusun bentuk objek tersebut. Materi pembelajaran Seni Budaya SMP Negeri 1 Sanggala, (http://www.scribd.com/doc/61768123/Studi-Seni-Ukir-Warangka-Keris-Karya#fullscreen:on).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan sumber ide adalah segala sesuatu yang terdapat di alam, pakaian penduduk dunia, peristiwa penting nasional ataupun internasional, dan dari pakaian kerja yang dapat diambil ciri-cirinya sehingga dapat menimbulkan ide-ide yang baru.